
Jakarta – Mengatur pola makan menjadi salah satu hal penting bagi orang yang memiliki masalah asam urat. Pasalnya, sejumlah makanan dan minuman dapat memengaruhi kadar asam urat dalam darah dan meningkatkan kemungkinan munculnya serangan.
Ketika kadar asam urat terlalu tinggi, kristal dapat terbentuk dan menumpuk di sekitar persendian. Kondisi tersebut dapat menimbulkan nyeri dan membuat aktivitas sehari-hari terganggu.
Karena itu, penderita asam urat perlu lebih selektif dalam memilih makanan. Bukan berarti semua makanan harus dihindari, tetapi beberapa jenis sebaiknya dikurangi, terutama yang tinggi purin atau gula.
Dikutip dari Health, berikut enam makanan dan minuman yang perlu diperhatikan agar asam urat lebih terkontrol.
1. Jeroan
Hati, ginjal, usus, dan berbagai jenis jeroan lainnya termasuk makanan yang memiliki kandungan purin sangat tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, makanan tersebut dapat membuat kadar asam urat dalam darah meningkat.
Jeroan juga mengandung hipoksantin. Senyawa tersebut dapat berkontribusi terhadap pembentukan asam urat di dalam tubuh.
Oleh sebab itu, penderita asam urat umumnya disarankan untuk membatasi, bahkan menghindari, konsumsi jeroan. Mengurangi makanan tinggi purin dapat membantu menekan risiko serangan berulang.
2. Minuman Manis
Tidak hanya makanan tinggi purin yang perlu diwaspadai. Minuman dengan kandungan gula tinggi, khususnya yang mengandung fruktosa, juga dapat berpengaruh terhadap kadar asam urat.
Minuman bersoda dan minuman dengan rasa buah menjadi beberapa contoh yang sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan. Produk semacam ini sering menggunakan sirup jagung tinggi fruktosa sebagai pemanis.
Sebagai gantinya, air putih atau minuman tanpa tambahan gula dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga asupan gula tetap terkendali.
3. Seafood Tertentu
Makanan laut memang dapat menjadi sumber protein, tetapi beberapa jenis seafood memiliki kandungan purin yang cukup tinggi sehingga perlu dibatasi oleh penderita asam urat.
Beberapa di antaranya adalah teri, remis, sarden, scallop, ikan trout, dan tuna. Mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan kadar asam urat dan berpotensi memicu kekambuhan.
Namun, bukan berarti seluruh makanan laut harus dihilangkan dari menu. Pengaturan porsi dan frekuensi konsumsi menjadi hal yang penting.
4. Daging Merah
Daging sapi, kambing, dan babi termasuk kelompok makanan yang perlu diperhatikan karena mengandung purin. Terlalu banyak mengonsumsi daging merah dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar asam urat.
Selain purin, terdapat pula hipoksantin yang dikaitkan dengan risiko serangan asam urat.
Perhatian juga perlu diberikan pada makanan berkuah atau kaldu yang dibuat dari daging. Kaldu berbahan jeroan maupun bagian tubuh hewan yang tinggi purin sebaiknya turut dibatasi.
5. Alkohol
Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol juga dapat meningkatkan risiko serangan asam urat. Bir menjadi salah satu jenis yang perlu mendapat perhatian khusus karena risikonya disebut lebih tinggi dibandingkan minuman keras atau anggur.
Alkohol dapat menghambat proses pengeluaran asam urat dari tubuh. Akibatnya, kadar asam urat dalam darah dapat lebih mudah meningkat.
Bagi penderita asam urat, menghindari alkohol, terutama ketika sedang mengalami serangan, merupakan langkah yang disarankan. Jika tetap mengonsumsinya, jumlahnya perlu dibatasi.
6. Makanan Olahan
Fast food, camilan kemasan, serta makanan ultraolahan lainnya juga sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi. Jenis makanan tersebut dapat berkaitan dengan peningkatan peradangan, yang berpotensi memperburuk keluhan asam urat.
Daging olahan juga perlu diperhatikan karena dapat mengandung purin dalam jumlah tertentu. Konsumsi yang berlebihan berpotensi meningkatkan kadar asam urat dan memicu kekambuhan.
Memilih bahan makanan yang lebih segar dan minim proses dapat menjadi alternatif untuk membantu menjaga pola makan tetap sehat.
Pada akhirnya, mengontrol asam urat tidak hanya bergantung pada menghindari satu jenis makanan. Mengatur porsi, membatasi makanan tinggi purin dan gula, serta menerapkan pola makan yang seimbang dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan.
