
Belakangan ini banyak masyarakat merasakan suhu udara yang terasa lebih terik dari biasanya. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut berkaitan dengan musim kemarau yang sedang berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG juga meluruskan informasi yang beredar mengenai fenomena “cuaca sekali dalam 60 tahun”. Lembaga tersebut menegaskan bahwa peningkatan suhu yang dirasakan saat ini dipengaruhi oleh tingginya intensitas sinar Matahari, kelembapan udara, kondisi tutupan awan, serta dinamika atmosfer, bukan karena fenomena langka seperti yang ramai diperbincangkan.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta lebih memperhatikan kesehatan. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Merita Arini, mengingatkan bahwa paparan suhu panas yang tinggi dapat memicu berbagai gangguan kesehatan apabila tubuh tidak terlindungi dengan baik.
Bayi, Lansia, dan Penderita Penyakit Kronis Paling Berisiko
Merita menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam beradaptasi terhadap suhu tinggi. Namun, terdapat beberapa kelompok yang jauh lebih rentan mengalami dampak buruk akibat cuaca panas ekstrem.
Bayi menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena sistem pengatur suhu tubuh mereka belum berkembang secara sempurna. Sementara itu, lansia memiliki kemampuan adaptasi tubuh yang mulai menurun sehingga lebih mudah mengalami gangguan akibat panas.
Risiko serupa juga dialami oleh penyandang penyakit kronis. Menurut Merita, suhu tinggi dapat meningkatkan beban kerja organ tubuh sehingga memperbesar kemungkinan munculnya komplikasi.
Sebagai contoh, penderita diabetes lebih mudah mengalami dehidrasi saat cuaca panas. Di sisi lain, penderita hipertensi berisiko mengalami peningkatan kerja jantung akibat suhu lingkungan yang tinggi.
Penuhi Cairan Tubuh
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, masyarakat dianjurkan mencukupi kebutuhan cairan setiap hari, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Apabila seseorang mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan akibat panas, seperti pusing, mual, atau lemas, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memindahkannya ke tempat yang lebih teduh, melonggarkan pakaian, kemudian memberikan air putih.
Jika paparan panas berlangsung cukup lama atau keluhan mulai bertambah berat, tubuh juga memerlukan pengganti elektrolit. Cairan tersebut dapat diperoleh dari oralit, minuman isotonik, maupun makanan berkuah.
Bila seseorang mengalami penurunan kesadaran atau kondisinya tidak membaik setelah diberikan cairan, penanganan medis harus segera dilakukan.
Perhatikan Heat Index Sebelum Beraktivitas
Merita juga mengimbau masyarakat agar tidak hanya melihat angka suhu udara, tetapi juga memperhatikan heat index atau indeks panas yang menunjukkan suhu yang benar-benar dirasakan tubuh.
Informasi tersebut umumnya tersedia pada aplikasi cuaca di telepon genggam maupun perangkat pintar melalui indikator seperti feels like atau real feel. Meski suhu udara tercatat sekitar 37 derajat Celsius, tingkat kelembapan yang tinggi dapat membuat tubuh merasakan panas hingga melebihi 40 derajat Celsius.
Karena itu, indeks panas dinilai lebih tepat dijadikan acuan sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Selain menjaga asupan cairan, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di bawah terik matahari pada siang hari. Mengenakan pakaian yang ringan, longgar, dan mudah menyerap keringat juga dapat membantu tubuh tetap nyaman selama cuaca panas berlangsung.
